Friday, May 3, 2013

Memelihara indukan perkutut


Sepasang perkutut yang telah berada di sangkar perkembangbiakan merupakan pasangan yang siap berkembang biak. Jika dipelihara dengan benar, pasangan perkutut akan segera kawin dan menghasilkan keturunan. Memelihara pasangan perkutut yang sudah jodoh hingga berkembang biak bukan sesuatu yang sulit. Dengan menerapkan hal-hal berikut ini perkutut dapat berkembang biak dengan normal.
  • Kebutuhan Pakan, Air Minum, Vitamin, dan Mineral

Pakan, air, vitamin, dan mineral merupakan kebutuhan yang mutlak diperlukan oleh perkutut, baik untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh ataupun fungsi reproduksi. Dengan pemberian vitamin dan mineral itu, maka hanya dengan memberi pakan berupa biji-bijian, perkutut yang diternakkan dalam kandang beralas tanah sudah bisa hidup normal dan berkembang biak. Pentingnya mineral adalah karena tempat beternak hanya berupa sangkar kecil sehingga tidak memungkinkan perkutut mendapat tambahan mineral dari tanah. Artinya, unsur yang satu ini perlu diberikan secara khusus. Hal ini perlu dilakukan karena dikhawatirkan dengan mempercayakan pemenuhan kebutuhan terhadap mineral dari pakan saja dapat memungkinkan terjadinya defisiensi mineral. Defisiensi ini bisa mengakibatkan terganggunya pertumbuhan tubuh dan proses perkembangbiakan.
1.     Pakan yang diberikan
Perkurut merupakan burung pemakan biji-bijian. Oleh karena itu, pakan yang diberikan juga berupa biji-bijian. Biji milet, jewawut, ketan hitam, dan gabah bisa diberikan kepada perkutut. Komposisinya tiga bagian milet selebihnya campuran jewawut, ketan hitam, dan gabah dengan perbandingan sama.
Untuk meningkatkan nilai gizi, campuran biji-bijian ini bisa dicampur dengan pakan ayam petelur dengan perbandingan 4:1. Penambahan pakan ayam petelur dilakukan hingga perkutut bertelur. Pada saat mengeram, cukup diberi pakan berupa biji-bijian. Ketika telur sudah menetas, pakannya bisa ditambah pakan untuk DOC (day old chiken, anak ayam umur sehari) dengan perbandingan empat bagian pakan biji-bijian dan satu bagian pakan DOC. Pakan ini diberikan selama perkutut mengasuh anak.
Pakan ini diberikan dalam jumlah tidak terlalu banyak, kira-kira habis dimakan selama sehari. Penambahan pakan sebaiknya tidak dilakukan ketika masih ada pakan yang tersisa. Biasanya pakan yang tersisa merupakan pakan yang tidak disukai perkutut. Jika ditambah dengan pakan baru, pakan yang tidak disukai tidak akan pernah termakan. Amat sayang jika pakan yang tidak disukai ini merupakan pakan yang nilai gizinya tinggi. Dengan tidak menambahkan pakan baru, pakan yang tidak disukai terpaksa juga dimakan.
Pemberian pakan sebenarnya bisa tiap tiga hari sekali. Jika ini dilakukan, kontrol terhadap kesegaran pakan harus sangat diperhatikan. Jangan sampai ada pakan yang busuk atau berjamur karena basah atau terkena kotoran. Pakan yang telah busuk bisa menyebabkan burung sakit atau mati jika memakannya.
Pada. saat pemberian pakan, wadah pakan harus dibersihkan. Jika perlu, dicuci hingga bersih. Kebersihan wadah pakan merupakan salah satu pendukung kesehatan perkutut. Penempatan wadah pakan harus dilakukan dengan pelan-pelan. Jangan sampai melakukan gerakan yang mengakibatkan perkutut terkejut. Gerakan yang mengejutkan akan membuat perkutut beterbangan menabrak-nabrak jeruji sangkar.
2.     Air minum
Air oleh perkutut hanya digunakan untuk minum. Perkutut bukan jenis burung yang menggunakan air untuk membersihkan tubuhnya. Oleh karena itu, tidak diperlukan wadah yang terlalu luas untuk tempat air. Air yang diberikan pun tidak perlu terlalu banyak, asalkan cukup untuk satu hari. Sepanjang air bisa dikonsumsi oleh manusia maka air tersebut juga bisa diberikan ke perkutut, baik yang sudah direbus ataupun belum. Untuk air yang sudah direbus, harus didinginkan terlebih dahulu sebelum diberikan ke perkutut.
Air untuk minum sebaiknya diganti setiap hari. Pada saat air diganti, wadah air minum harus dibersihkan. Untuk sangkar yang ditempel agak tinggi, penggantian air minum menjadi agak sulit. Paling tidak harus menurunkan sangkar terlebih dahulu. Padahal, jika sangkar sering diturunkan, perkutut menjadi sering terganggu.
Ada suatu cara untuk mengatasi hal seperti ini. Dua buah botol plastik bekas kemasan sampo atau sejenisnya bisa digunakan untuk mempermudah penggantian air minum dan pembersihan wadahnya. Sebelum digunakan, botol harus bebas dari sisa-sisa dan aroma sampo. Setelah benar-benar bersih, lubang botol dimasuki selang kecil atau sedotan minuman. Panjang selang disesuaikan dengan ukuran botol. Yang pasti selang yang berada diluar botol kira-kira sepanjang 20 cm.
Jika botol akan digunakan sebagai alat untuk menuangkan air minum, selang dimasukkan hingga ke dasar botol. Jika botol hanya digunakan sebagai sarana untuk membersihkan wadah air minum, selang tidak perlu dimasukkan hingga ke dasar. Supaya antara selang dan lubang botol tidak berongga, tepi lubang bisa ditutup dengan lem plastik.
Botol yang digunakan untuk membersihkan wadah air minum bekerja dengan cara menyedot air berikut kotoran yang ada di dalam wadah air minum. Oleh karena itu, sebelum digunakan botol ini harus dalam keadaan kosong dan bersih. Untuk membersihkan wadah air minum, ujung selang dimasukkan dalam wadah tersebut. Selanjutnya botol ditekan-tekan hingga udara yang keluar akan mengaduk-aduk air dalam wadah minum. Air yang telah kotor bisa segera disedot ke dalam botol dengan cara melepas tekanan pada botol. Setelah wadah air minum kosong dan bersih bisa diisi dengan air baru dengan menggunakan botol untuk menuangkan air. Ujung selang dimasukkan ke dalam wadah air minum, lalu botol ditekan. Air akan mengalir memenuhi wadah air minum. Dengan bantuan alat seperti ini, pembersihan wadah minum dan penggantian airnya bisa dilakukan dengan sangat mudah tanpa harus menurunkan sangkar dari dinding dan mengeluarkan wadah yang akan dibersihkan.
3.     Multivitamin dan mineral
Pengalaman peternak menunjukkan bahwa pemberian multivitamin, misalnya BirdVit, untuk burung kicauan juga bisa mempertahankan daya reproduksi perkutut tetap tinggi. Mukivitamin ini mengandung vitamin dan mineral yang diperlukan untuk reproduksi.
Di alam bebas perkutut sering memakan batu atau kerikil yang lembut untuk membantu pencernakan. Dalam sangkar penangkaran fungsi batu atau kerikil lembut bisa diganti batu bata. Pecahan batu bata berukuran setengah genggaman tangan bisa diletakkan di dasar sangkar. Perkutut akan mematuki batu bata ini untuk membantu pencernakan sekaligus memenuhi kebutuhan akan mineral. Sebelum diberikan ke perkutut, batu bata harus dicuci bersih, lalu direbus atau disangrai. Dengan cara ini perkutut akan terhindar dari serangan organisme yang kemungkinan menempel pada batu bata.
  • Kebersihan Sangkar

Sangkar yang bersih akan menghindarkan perkutut dari penyakit. Oleh karena itu, kebersihan sangkar harus selalu diperhatikan. Setiap hari kotoran yang tertampung harus dibuang. Penampungnya harus dibersihkan sebelum dikembalikan ke sangkar. Pelepasan maupun pemasangan kembali penampung kotoran harus dilakukan dengan pelan-pelan supaya perkutut tidak ketakutan.
Setelah penampung kotoran bersih, jeruji pada dasar sangkar juga dibersihkan dari kotoran yang menempel. Umumnya sangkar model sekarang jeruji pada sisi bawah bisa dilepas seperti halnya penampung kotoran. Sangkar seperti ini mudah dibersihkan dari kotoran tanpa mengganggu ketenangan perkutut yang ada di dalamnya.
Sangkar dibersihkan secara total ketika anak perkutut dipisah dari induknya. Sementara sangkar dibersihkan, induk perkutut dipindah ke sangkar lain. Semua kotoran yang menempel pada sangkar harus dibuang. Semua perlengkapan sangkar harus bersih. Setelah bersih, semua perlengkapan dikembalikan ke tempat semula. Bahan sarang tidak bisa dipakai lagi untuk bertelur. Bahan sarang harus diganti dengan yang baru untuk periode perkembangbiakan berikutnya.
  • Mengontrol Atap dan Pelindung

Kontrol terhadap atap sangkar juga harus dilakukan secara rutin. Jangan sampai ada atap yang bocor, terutama pada musim bujan. Posisi pelindung sarang serta wadah pakan dan wadah minum barus diperhatikan. Jangan sampai posisinya bergeser hingga memungkinkan sinar matahari atau air hujan masuk ke tempat-tempat tersebut.
  • Mengontrol Telur

Perkutut betina biasanya bertelur satu hingga dua minggu setelah kawin. Setiap periode perkembangbiakan seekor perkutut umumnya menghasilkan dua butir telur. Dua butir telur ini dikeluarkan berurutan selama dua hari. Meskipun demikian, kadang-kadang seekor perkutut hanya bertelur satu butir. Telur perkutut dierami selama 14-16 hari.
Sebaiknya tanggal keluarnya telur dicatat. Pencatatan diperlukan untuk mengetahui kapan telur menetas. Jika dalam waktu 14— 16 hari belum menetas, jangan terburu-buru telur tersebut diambil. Barangkali telur tersebut memang belum saatnya menetas. Telur baru bisa diambil, untuk dibuang, setelah melewati masa pengeraman selama seminggu. Pengambilan telur yang sudah saatnya menetas, tetapi belum juga menetas diperlukan supaya induk perkutut tidak terus mengerami telur yang nyata-nyata tidak mau menetas. Selain telur, bahan sarang juga perlu diambil.
Kadang-kadang ada perkutut jantan yang berusaha mengawini perkutut betina yang sedang mengerami telur. Keinginan perkutut jantan ini sering menyebabkan perkutut betina berlarian menghindarinya. Hal seperti ini tentu sangat mengganggu proses pengeraman telur. Perkutut jantan yang berperilaku seperti ini sebaiknya dipisah dari betinanya. Perkutut betina dibiarkan mengerami telur tanpa pejantan.
  • Memelihara Anak Perkutut

Apabila telur yang dierami telah menetas, perkutut betina menjadi tidak terlalu liar. Perkutut betina menjadi lebih sering berada di sarang sarang untuk melindungi anaknya. Setiap ada yang mendekatinya lalu diancam dengan patukan.
Seminggu setelah menetas, anak perkutut sudah tumbuh besar. Sebagian besar tubuhnya sudah ditumbuhi bulu-bulu jarum. Pada umur ini, anak perkutut belum aktif bergerak. Organ-organ geraknya, sayap dan kaki, masih terlihat sangat lemah. Kakinya belum mampu mengangkat tubuh dan sayapnya belum bisa dikepak-kepakkan.
Pada umur sekitar sepuluh hari, sebaiknya dilakukan pemasangan cincin pada kaki anak perkutut. Pemasangan dilakukan dengan cara memasukkan cincin pada tiga jari yang menghadap ke depan, lalu didorong ke belakang hingga melewati jari yang menghadap ke belakang. Setelah melewati jari yang menghadap ke belakang berarti cincin telah terpasang pada kaki perkutut. Jika pemasangan cincin terlambat, cincin akan susah terpasang karena kaki anak perkutut sudah tumbuh besar dan kaku.
Setelah dipasangi cincin atau umur sepuluh  hari,  anak  perkutut  bisa tetap dipercayakan ke induknya sendiri   sepanjang   induknya tidak    menelantarkan    anak-anaknya atau dititipkan ke puter untuk   dibesarkan.   Dengan   dititipkannya anak perkutut ke puter, induk perkutut dapat segera bertelur lagi. Namun, jangan lupa untuk membuang bahan sarangnya dan mengganti bahan sarang yang baru seminggu kemudian. Anak perkutut akan diasuh oleh puter hingga mampu hidup sendiri.
Umur dua minggu bulu-bulu jarum mulai mengembang dan anak perkutut mulai berusaha keluar dari sarang. Pada umur ini, anak perkutut sering terlihat bertengger di tenggeran. Gerakannya menjadi semakin aktif, terutama saat lapar. Kakinya mulai bisa digunakan untuk melompat, sedangkan sayapnya mulai bisa dikepakkan.
Pada umur tiga minggu, anak perkutut mulai sering mengepak-ngepakkan sayap. Bulu-bulunya pun semakin sempurna menutup tubuh. Ketika lapar anak perkutut seumur ini akan mengejar induknya untuk minta suap. Sarang semakin sering ditinggalkan.
Umur empat minggu anak perkutut mulai bisa terbang meskipun belum sempurna. Selain bisa terbang, anak perkutut juga mulai bisa makan sendiri. Anak perkutut yang telah berumur empat minggu bisa dipisah dari induknya (disapih).
  • Menjaga Kesehatan Induk

Sangkar, pakan, dan air minum yang selalu terjaga kebersihannya sebenarnya sudah bisa menghindarkan perkutut dari serangan penyakit. Meskipun demikian, adakalanya perkutut masih juga terserang penyakit. Cadangan dan mencret merupakan contoh penyakit yang kadang-kadang menyerang perkutut.
1.     Cacingan
Perkutut yang terserang cacing menampikkan gejala kurus dan ekor sering digerak-gerakkan (seakan-akan berusaha membuang sesuatu dari kloaka). Kadang-kadang pada kotorannya dijumpai cacing.
Cacing bisa dibasmi dengan obat cacing untuk burung seperti AscariStop yang terbukti bisa membasmi berbagai jenis cacing pengganggu burung. Obat ini diberikan dengan cara diminumkan ke rongga mulut. Pemberian obat ini bisa diulang satu minggu kemudian selanjutnya pemberian obat cacing diberikan setiap sebulan sekali.
2.     Mencret
Kondisi fisik kotoran bisa digunakan untuk mengetahui gangguan penyakit pencernaan. Perkutut yang sehat mengeluarkan ko toran dengan kondisi padat lunak (adakalanya keluarnya kotoran dibarengi dengan keluarnya cairan bening sehingga berkesan seperti mencret, padahal tidak).
Mencret merupakan gangguan pencernaan dengan tanda kotoran sangat lembek berwarna putih atau hijau. Mencret biasanya diikuti dengan menurunnya vitalitas hidup: perkutut terlihat lesu dan nafsu makan berkurang. Jika terlihat gejala seperti ini, air minum perkutut .
Read more > Memelihara indukan perkutut

Proses penjodohan perkutut


Apabila sepasang perkutut telah berjodoh dan bertelur, selanjutnya hampir tidak ada lagi hambatan dalam perkembang-biakannya. Hambatan yang paling sering dialami oleh peternak, terutama pemula, justru terjadi pada rahap awal, yaitu pasangan perkutut tidak mau kawin alias tidak jodoh. Jika terjadi hal seperti ini, bagaimana cara mengatasinya. Uraian berikut yang akan menjawabnya.
  • Membeli Pasangan yang Telah Jodoh

Banyak peternak perkutut yang mencampur beberapa anakan perkutut dalam satu sangkar sebelum burung-burung tersebut dijual. Setelah berumur enam bulan atau lebih, anak perkutut ini mulai menampakkan tanda-tanda dewasa kelamin. Perkutut jantan mulai mencari pasangan dengan mengeluarkan bunyi sambil mengangguk-anggukkan kepala. Betina yang tertarik akan mendekat. Keduanya lalu saling mendekatkan kepala. Perkutut jantan lalu membuka paruh untuk memberi makanan kepada perkutut betina.
Untuk peternak pemula, bisa memanfaatkan tanda-tanda seperti ini dalam memilih pasangan perkutut. Jika ada sepasang perkutut telah menampakkan tanda-tanda seperti ini, berarti keduanya telah jodoh dan siap berkembang biak. Jika berniat membelinya, segera saja perkutut yang menampakkan tanda-tanda seperti ini disemprot dengan air hingga basah, lalu ditangkap. Jika tidak ditandai dengan air, akan sangat membingungkan dalam menangkapnya. Setelah berjodoh, segera pasangan tersebut dimasukkan ke sangkar perkembangbiakan. Selama beberapa hari pasangan burung ini akan beradaptasi dengan tempat yang baru. Setelah beradaptasi, pasangan ini akan menampakkan tanda-tanda awal perkembangbiakan.
Biasanya peternak perkutut yang menjual hasil ternakannya juga menyediakan pasangan perkutut yang sudah jodoh. Bisa saja kita membeli pasangan perkutut seperti ini dari peternak. Pasangan seperti ini bisa langsung dimasukkan ke sangkar perkembangbiakan.
Bagi peternak pemula, membeli pasangan yang sudah jodoh memang sangat menguntungkan. Tak perlu lagi repot-repot menjodohkan perkutut. Pasangan yang sudah jodoh bisa langsung dimasukkan ke dalam sangkar perkembangbiakan.
Cara memilih pasangan yang sudah berjodoh seperti di atas juga memiliki kekurangan. Peternak tidak bisa bereksperimen menjodohkan perkutut sesuai dengan keinginannya. Penjodohan semata-mata tergantung pada perkutut tersebut dalam memilih pasangan. Dengan demikian, kualitas suara keturunannya juga semakin tidak bisa diprediksi. .Namun, bagaimanapun juga cara ini bisa dicoba oleh pemula. Dalam beternak perkutut, tidak mungkin seorang peternak pemula bisa langsung mencetak burung berkualitas tanpa harus belajar terlebih dahulu. Inilah bagian dari proses belajar itu.
  • Menjodohkan Sepasang Perkutut

Adakalanya sepasang perkutut langsung kawin ketika disatukan dalam satu sangkar. Namun, tidak jarang pula sepasang perkutut yang telah lama dijodohkan tidak mau lekas kawin. Bahkan, sepasang perkutut yang kelihatannya saling tertarik ketika dicampur malah berkelahi.
Ketidakcocokan pasangan perkutut umumnya ditandai dengan betina yang tidak mau menerima pejantan. Perkutut betina selalu menghindar ketika didekati pejantan. Akibatnya, perkutut jantan selalu mengejarnya. Tidak jarang betina yang tidak mau menerima pejantan selalu dikejar-kejar dan dipatuki. Jika terus dibiarkan, perkutut betina akan mengalami luka, bahkan mati.
Hal seperti di atas hanya merupakan gambaran bahwa menjodohkan perkutut kadang-kadang tidak semudah atau mungkin juga tidak sesulit yang kita bayangkan. Seberapa mudah atau sulitnya menjodohkan perkutut ada baiknya jika dicoba terlebih dahulu.
1.     Menjodohkan satu jantan dengan satu betina
Apabila  ingin  mengawali   beternak  hanya  dengan  sepasang perkutut, cara ini bisa dipilih.  Cara penjodohan yang satu ini juga
memungkinkan peternak melakukan eksperimen untuk menghasilkan anak-anak perkutut yang berkualitas dengan cara menjodohkan induk-induk yang berkualitas.
Untuk menjodohkan seekor perkutut jantan dan betina, langkah pertama tentunya membeli calon induk jantan dan betina. Ada baiknya jika keduanya dibeli tidak dari peternak yang sama. Jika dibeli dari peternak yang sama, ada kemungkinan akan terjadi perkawinan antarsaudara.
Sebaiknya dipilih perkutut yang masih muda, umurnya tidak lebih dari tiga bulan. Sepasang perkutut yang masih muda ini selanjutnya dimasukkan dalam sangkar yang berbeda. Sangkarnya cukup dilengkapi dengan tenggeran, wadah pakan, wadah minum, dan penampung kotoran. Kedua sangkarnya setiap hari harus saling didekatkan, baik ketika sedang dijemur atau sudah ditempatkan di tempat teduh, supaya kedua perkutut bisa saling melihat.
Selama kurang lebih tiga bulan, kedua burung akan saling berinteraksi. Jika perkutut jantan berbunyi, perkutut betina akan menyahutnya. Selanjutnya, perkutut jantan akan berusaha menarik perhatian betina dengan suara dan anggukan kepala. Jika ada reaksi— seakan-akan ingin keluar dari sangkar dan mendekati perkutut jantan—dari perkutut betina, berarti ada kemajuan dalam penjodohan.
Pasangan yang sudah menampakkan perilaku seperti itu bisa dicampur dalam satu sangkar. Beberapa saat setelah dicampur pasangan ini harus dipantau. Jika keduanya tidak menampakkan tanda-tanda saling bermusuhan, kemungkinan besar keduanya telah jodoh. Perilaku seksual buriing jantan menjadi sangat jelas jika keduanya telah jodoh. Percumbuan antara sepasang burung ini biasanya diakhiri dengan perkawinan. Dalam sehari bisa terjadi perkawinan berulang-ulang. Perilaku seksual perkutut mudah diamati ketika burung tersebut sedang dijemur.
Jika ada tanda-tanda perkutut jantan berusaha mengawini perkutut betina, keduanya bisa segera dipindah ke sangkar perkembangbiakan. Sebelumnya sangkar perkembangbiakan harus sudah diisi dengan berbagai perlengkapan yang dibutuhkan.
Apabila setelah dicampur perkutut jantan terlihat mematuki perkutut betina, keduanya harus segera dipisah. Kemungkinan perkutut betina belum siap kawin atau pejantannya memang galak. Jika terus disatukan, perkutut betina akan terluka, bahkan bisa mati. Satu bulan kemudian, keduanya bisa disatukan lagi. Jika perkutut jantan masih menyerangnya, berarti keduanya memang tidak jodoh. Kedua perkutut ini harus dipasangkan dengan perkutut lain. Burung lain yang akan dipasangkan dengan burung ini kalau jantan harus lebih muda dari betina ini dan kalau betina harus lebih tua dari pejantan ini.
2.     Satu jantan bebas memilih betina
Melakukan penjodohan dengan cara ini berarri harus membeli seekor perkutut jantan dan beberapa—paling tidak lebih dari dua— ekor betina. Burung-burung ini disatukan dalam sangkar berukuran panjang kira-kira 60 cm, lebar 40 cm, dan tinggi 50 cm. Sangkar ini cukup dilengkapi dengan wadah pakan, wadah minum, tenggeran, dan penampung kotoran. Di dalam sangkar ini perkutut jantan akan bebas memilih betina.
Apabila semua perkutut yang dimasukkan ke dalam sangkar ini telah dewasa kelamin, tidak lebih dari satu bulan sudah terbentuk pasangan yang jodoh. Betina yang mau menerima pejantan biasanya selalu berdekatan dengan pejantan tersebut. Keduanya lalu saling bercumbu dan melakukan perkawinan. Jika terlihat tanda-tanda seperti ini, pasangan tersebut segera saja diambil. Betina yang tidak terpilih dibiarkan saja berada dalam sangkar tersebut untuk dicarikan pejantan lain.
3.     Beberapa jantan dan beberapa betina
Upaya menjodohkan perkutut juga bisa dilakukan dengan mencampur beberapa pejantan dengan beberapa betina di dalam satu sangkar. Jumlah jantan dan betina bisa sama atau bisa juga tidak. Sangkar berukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm, dan tinggi 50 cm yang dilengkapi dengan wadah pakan dan air minum, tenggeran, dan penampung kotoran bisa digunakan untuk mencampur paling banyak delapan ekor burung.
Pasangan yang telah jodoh dapat diketahui melalui pengamatan  terhadap perilaku burung-burung tersebut. Pasangan yang telah jodoh segera dipindah ke sangkar perkembangbiakan. Perkutut yang belum jodoh dibiarkan  menghuni sangkar penjodohan  hingga  menemukan pasangannya.
Cara penjodohan seperti ini tetap memungkinkan adanya burung yang tidak mendapat pasangan. Burung yang tidak mendapat pasangan bisa tetap dipelihara. Siapa tahu kelak bisa digunakan untuk mengganti-ganti pasangan.
Read more > Proses penjodohan perkutut
 
 
Copyright © seputar dunia burung
Blogger Theme by Blogger Designed and Optimized by Tipseo